Penentuan Hasil reaksi Elektrolisis

Elektrolisis adalah reaksi penguraian senyawa kimia menggunakan bantuan arus listrik. Biasanya, senyawa kimia yang diuraikan menggunakan proses elektrolisis adalah senyawa garam dari unsur-unsur yang sangat reaktif. Mengapa harus garam ? Karena lelehan atau larutan garam dapat menghantarkan listrik.

Cara menyetarakan persamaan reaksi redoks 3 variabel

Persamaan reaksi redoks 3 variabel adalah persamaan redoks dimana spesi yang berubah biloksnya ada 3 buah. Karena reaksi redoks hanya melibatkan reduksi dan oksidasi, maka spesi ketiga haruslah berupa salah satu dari dua reaksi di atas (reduksi atau oksidasi).

Cara Mengkonversi besaran konsentrasi (molaritas, molalitas, fraksi mol, dan persen massa)

Sobat chem, terkadang kalian disuruh untuk mengubah konsentrasi suatu larutan dari besaran tertentu menjadi besaran yang lain. Berikut ini beberapa contoh diantaranya :

Cara Membedakan Ikatan Ionik dengan Ikatan Kovalen

Sobat chem, pada edisi sebelumnya, kita sudah membahas cara membuat ikatan ionik dan ikatan kovalen serta cara-cara pembentukannya. Sangat mudah membuat dan membedakannya manakala kita diberikan nomor atom dari unsur-unsur yang berikatan.

Ikatan Kimia (bag. 2) : Cara membuat Ikatan Kovalen

2. Ikatan Kovalen Setelah sebelumnya kita membahas ikatan ionik, sekarang kita akan membahas tentang ikatan kovalen.

Cara Menyetarakan Persamaan Reaksi Redoks (bag. 2)

Setelah kita pada edisi sebelumnya menyetarakan persamaan reaksi redoks menggunakan metode PBO (Perubahan Bilangan Oksidasi), maka kali ini kita akan mencoba membahas penyetaraan reaksi redoks metode ion-elektron (setengah reaksi).

Jenis-Jenis Isomer Pada Senyawa Hidrokarbon

Isomeri terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu isomeri struktur dan isomeri ruang. Isomeri struktur terbagi lagi menjadi isomeri rangka, isomeri posisi, dan isomeri fungsional.

Tampilkan postingan dengan label Materi kelas XI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi kelas XI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 September 2014

Jenis-Jenis Isomer Pada Senyawa Hidrokarbon


Isomeri terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu isomeri struktur dan isomeri ruang. Isomeri struktur terbagi lagi menjadi isomeri rangka, isomeri posisi, dan isomeri fungsional. Adapun isomeri ruang terbagi menjadi isomeri geometri (cis-trans) dan isomeri optis aktif.
Di kelas XI ini, kita hanya akan membahas isomeri rangka, posisi, dan geometri. Adapun isomeri fungsional dan isomeri optis aktif akan dibahas di kelas XII.
1. Isomeri Rangka
Isomeri rangka adalah isomeri yang terjadi karena perbedaan rangkanya, biasanya terjadi antara senyawa rantai lurus dengan senyawa yang memiliki cabang, bisa pula antar senyawa yang memiliki cabang, namun berbeda pada posisi dan jumlah cabang.
Contoh : butana memiliki dua isomer yaitu, normal butana (n-butana) dan isobutana (2-metilpropana)

 
2. Isomeri Posisi
Isomeri posisi adalah isomeri yang terjadi karena perbedaan posisi ikatan rangkap. Isomeri ini hanya terjadi pada senyawa hidrokarbon tak jenuh (alkena dan alkuna).
Contoh : butena memilki dua isomer posisi yaitu, 1-butena dan 2-butena

3. Isomeri Geometri
Isomeri geometri adalah isomeri yang disebabkan oleh perbedaan penataan ruang atom-atom dalam molekul. Isomeri ini berbeda dengan isomeri sebelumnya, karena isomeri jenis ini hanya terjadi pada senyawa yang memiliki ikatan yang kaku dengan dua sisi yang berlainan. Isomeri geometri hanya terjadi pada senyawa alkena.
Bagaimana penjelasannya ?

Molekul di alam tidaklah diam atau statis, namun melakukan banyak gerakan, diantara gerakan yang paling umum adalah translasi (gerak lurus), rotasi (memutar), dan vibrasi (bergetar). Salah satu gerak yang akan kita tinjau adalah gerak rotasi. Pada senyawa alkana, dimana ikatan antar karbon adalah ikatan tunggal, maka molekul akan dapat berputar pada sumbunya dengan putaran yang bebas. Perhatikan, kita ambil contoh senyawa butana (CH3-CH2-CH2-CH3):
Kedua struktur diatas adalah struktur dari senyawa yang sama, meskipun gugus –CH3 sepertinya berlainan tempat, namun karena molekul dapat berputar, maka struktur tersebut dapat kembali ke struktur semula, dan ini dapat terjadi dalam waktu yang sangat cepat.

Adapun untuk senyawa yang mengandung ikatan rangkap (seperti alkena), ikatan rangkap tersebut akan bersifat kaku sehingga tidak dapat berputar. Nah, karena ikatan rangkap ini tidak dapat berputar, maka ketika ada dua senyawa yang memiliki struktur berbeda, itu artinya kedua senyawa tersebut memang merupakan dua senyawa yang berbeda sifat. Dengan kata lain, dua senyawa tersebut adalah isomer satu sama lain. Perhatikan perbandingan di bawah ini :

 
Pasangan senyawa pada contoh nomor 2 diatas masuk dalam kategori isomeri geometri atau nama lainnya isomeri cis-trans. Jadi, isomeri geometri atau isomeri cis-trans terjadi karena gugus-gugus berada pada satu sisi atau pada sisi yang berlawanan terhadap letak ikatan rangkap dua. Dalam hal ini, ikatan rangkap membentuk semacam jembatan yang memiliki dua cabang. Syarat terjadinya isomeri geometri adalah harus adanya dua gugus yang berbeda yang terikat pada atom C yang sama. Isomer cis terjadi jika gugus yang sama terletak sesisi (melewati jembatan), sedangkan isomer trans terjadi jika gugus yang sama terletak berseberangan.
Contoh : 2-butena (CH3–CH=CH–CH3) memiliki dua isomer geometri, yaitu :

 Jadi sekali lagi, Syarat terjadinya isomeri cis-trans adalah :
- ada ikatan rangkap dua
- ada dua jenis gugus yang berbeda yang terikat pada atom C yang sama
Sehingga, senyawa propena (CH2=CH-CH3) tidak memiliki isomeri geometri karena tidak terpenuhinya syarat kedua. Perhatikan gambar berikut :
Inilah sekilas tentang jenis-jenis isomeri pada senyawa hidrokarbon. Semoga memberikan tambahan wawasan kepada sobat chem sekalian. 
Selamat Belajar

@IF'38

Jumat, 12 September 2014

Cara Mengurutkan Titik Didih Senyawa Hidrokarbon


Sobat chem terutama kelas XI, terkadang kalian diminta untuk menentukan hidrokarbon mana yang memiliki titik didih yang lebih tinggi. Jika itu dalam deret homolog yang sama, maka tinggal perhatikan saja nilai Mr-nya. Semakin besar Mr, maka semakin tinggi pula titik didihnya. (Sebagai pengingat, Mr adalah massa molekul relatif, yaitu massa total atom-atom penyusun suatu molekul (dalam satuan sma atau gram/mol)).

Tapi jika Mr-nya sama namun bentuk molekulnya berbeda (senyawa-senyawa isomer), terus bagaimana cara menentukan senyawa yang memiliki titik didih yang lebih tinggi ?
Nah, untuk kasus ini, maka kita harus menentukan mana senyawa yang cabangnya paling sedikit. Senyawa yang cabangnya paling sedikit akan memiliki titik didih paling tinggi. 

Karena semua isomer memiliki jumlah atom dan rumus molekul yang sama, maka otomatis senyawa yang cabangnya paling sedikit artinya rantainya paling panjang. Coba perhatikan kembali pada bagian cara membuat isomer yang sudah dibahas sebelumnya di sini.
Jadi, singkatnya, untuk menentukan mana yang titik didihnya lebih besar, ada dua hal yang harus diperhatikan :
  1. Mr (massa molekul relatif)
    Mr semakin besar, titik didih semakin tinggi
  2. Panjang rantai
    Rantai semakin panjang, titik didih semakin tinggi
Contoh : Urutkan titik didih senyawa-senyawa berikut ini, dari yang paling kecil ke yang paling besar :
  • n-butana (C4H10) ; Mr = 58
  • 2-metilbutana (C5H12) ; Mr = 72
  • n-pentana (C5H12) ; Mr = 72
Jawab : n-butana memiliki Mr paling kecil, sehingga titik didihnya paling rendah. Sementara itu, 2-metilbutana dan n-pentana memiliki Mr yang sama. Maka, karena n-pentana memiliki rantai yang paling panjang, tentunya titik didihnya paling besar. Jadi, urutannya adalah :
n-butana < 2-metilbutana < n-pentana

Soal di atas termasuk soal yang mudah, bagaimana jika pertanyaannya seperti ini :
Urutkan titik didih senyawa-senyawa berikut ini, dari yang paling kecil ke yang paling besar :
  • n-butana (C4H10)
  • 2,2-dimetilpropana (C5H12)
  • n-pentana (C5H12)
Apa yang membuat sulit ? Perhatikan gambar struktur molekul dari ketiga senyawa tersebut :
Jika kita amati, n-butana rantainya lebih panjang daripada 2,2-dimetilpropana. Akan tetapi, n-butana Mr-nya lebih kecil daripada 2,2-dimetilpropana. Terus mana yang titik didihnya lebih tinggi ?

Jawab :
Ternyata, dari penelusuran pustaka :
Panjang rantai tidak memberikan pengaruh yang terlalu signifikan. Jika ada kondisi seperti di atas, maka massa molekul relatif lebih diutamakan daripada panjang rantai. Senyawa yang memiliki Mr lebih tinggi, titik didihnya lebih besar daripada senyawa yang Mr-nya lebih rendah meskipun rantainya lebih panjang.
Jadi, aturan penentuan titik didih di atas (lihat Mr kemudian baru lihat panjang rantai) adalah urutan yang harus diikuti dan tidak bisa dibalik. Sepanjang apapun rantainya, jika Mr-nya lebih kecil, maka titik didihnya lebih kecil pula.

Sehingga, urutan titik didihnya adalah
n-butana < 2,2-dimetilpropana < n-pentana

Demikian, semoga bermanfaat 


@IF'38

Jumat, 05 September 2014

Manfaat mempelajari ilmu kimia (2) : Rokok dan Pemanasan Global


Sebagaimana sudah diuraikan di bab sebelumnya, organisme hidup termasuk manusia, merupakan “mesin pengoksidasi karbon”. Hal ini karena makhluk hidup senantiasa membakar senyawa karbon (seperti glukosa) menghasilkan karbondioksida dan uap air. Ketika mereka mati di permukaan bumi, maka senyawa karbon yang terkandung akan terurai menghasilkan karbondioksida dan air. Akan tetapi, ketika mereka terkubur dalam tanah dan tidak kontak dengan oksigen, maka senyawa karbon yang dikandungnya tidak teroksidasi menjadi karbondioksida dan uap air, akan tetapi sebaliknya, dengan bantuan bakteri tertentu, malah mengalami reduksi menjadi senyawa karbon lain yang dikenal dengan nama minyak bumi.
Minyak bumi tersusun terutama oleh hidrokarbon. Unsur karbon yang terdapat dalam hidrokarbon ini berada dalam bilangan oksidasi terendahnya yaitu -4. Ketika hidrokarbon ini dibakar di udara, maka terjadi perubahan bilangan oksidasi yang sangat drastis, dari -4 pada senyawa hidrokarbon menjadi +4 pada senyawa CO2, yang tentunya disertai pelepasan energi yang sangat besar. Itulah sebabnya mengapa hidrokarbon banyak digunakan sebagai bahan bakar minyak (BBM).

Masalahnya adalah bahwa pembakaran BBM ini menghasilkan senyawa CO2 dan H2O ke udara. Kedua senyawa ini termasuk kelompok gas rumah kaca, yaitu gas yang dapat menaikkan suhu bumi karena mampu menyerap sinar infra merah yang dipantulkan oleh bumi.
Akhir-akhir ini, permasalahan gas rumah kaca ini telah menyibukkan para ilmuwan karena telah berada pada level yang mengkhawatirkan. Betapa tidak, banyaknya gas rumah kaca di atmosfer akan menyebab-kan bencana yang dinamakan pemanasan global. Pemanasan global adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu bumi di seluruh dunia secara merata. Akibat yang ditimbulkan oleh pemanasan global termasuk mencairnya es di kutub sehingga menyebabkan naiknya permukaan air laut yang pada gilirannya menenggelamkan kota-kota di pinggir pantai. Pemanasan global juga menyebabkan terjadinya perubahan iklim, dimana terjadi kekeringan pada musim penghujan, atau banjir pada musim kemarau. Beberapa bencana yang lain seperti tsunami dan tornado juga diakibatkan oleh pemanasan global.

Perlu diketahui, komponen utama penyusun udara adalah nitrogen (78,08 %), oksigen (20,95 %), dan argon (0,93 %). Ketiga gas ini bukanlah termasuk gas-gas rumah kaca, dan mereka menyusun 99,96 % atmosfer bumi. Sementara itu, salah satu gas rumah kaca yaitu CO2 hanya memiliki kadar sebesar 0,0093 %. Gas-gas rumah kaca yang lain seperti uap air dan metana, jumlahnya lebih sedikit daripada CO2. Itu artinya, pemanasan global dikendalikan oleh gas-gas yang jumlahnya tidak mencapai 0,1 %. Bagaimana hal ini bisa terjadi ?

Jawabannya ada pada sifat gas rumah kaca itu sendiri. Kita ambil contoh CO2. CO2 tidak memberikan pengaruh pada jumlah energi yang diterima oleh bumi dari matahari (energi input), karena CO2 bersifat transparan (tidak menyerap sinar yang dipancarkan oleh matahari). Sebaliknya, CO2 sangat efektif dalam menyerap radiasi infra merah yang dipantulkan kembali oleh bumi (energi output). Itu artinya, energi output (keluaran) dari bumi menuju luar angkasa berkurang sebanding dengan bertambahnya jumlah CO2 bahkan dalam jumlah sedikit pun. Akibatnya, sebagian energi output (dalam bentuk sinar infra merah) menjadi tertahan di bumi sehingga menyebabkan kenaikan suhu bumi.

Yang lebih parah lagi, CO2 memiliki masa tinggal yang sangat lama di udara (sampai 100 tahun).

Nah, sebagai pemuda yang berpendidikan, sudah seharusnya kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Untuk mencegah pemanasan global, kita dapat melakukan hal-hal yang sederhana, seperti menghemat pemakaian energi, baik itu energi listrik, maupun energi yang lainnya. Lebih memilih jalan kaki atau bersepeda menuju tempat yang cukup dekat dibandingkan dengan menggunakan motor atau mobil, servis kendaraan secara rutin supaya mesin kendaraan lebih hemat energi, dan tidak membakar sampah. Sampah-sampah organik seperti kertas dan sampah makanan sebaiknya dikubur sehingga dapat menjadi kompos.

Diantara cara sederhana untuk mencegah pemanasan global juga adalah dengan menanam pohon dan tidak merokok. Menanam pohon dapat mengurangi karbondioksida di udara, karena tanaman dapat mengubah karbondioksida menjadi oksigen ketika mereka melakukan fotosintesis.

Sementara itu, merokok dapat menimbulkan pemanasan global karena asap yang dihasilkan mengandung banyak senyawa kimia yang termasuk gas rumah kaca terutama karbondioksida. Sebagaimana kita ketahui, kenaikan sedikit saja kadar karbondioksida di udara, dapat meningkatkan resiko pemanasan global.

Apapun alasan dan dalihnya, merokok tidak memberikan keuntungan apapun. Meskipun baru-baru ini, telah ditemukan alat penyaring rokok yang dapat menangkal radikal bebas yang dihasilkan oleh pembakaran rokok ke dalam tubuh seseorang. Alat penyaring (filter) yang dinamai divine cigarette tersebut diklaim dapat mengurangi bahkan menghilangkan radikal bebas, sehingga tubuh tidak terkena dampak negatif radikal bebas yang dihasilkan oleh rokok.
Pada dasarnya, alat ini bukanlah penemuan yang istimewa, namun justru dapat menimbulkan bencana yang lebih hebat di kemudian hari. Betapa tidak, hal ini karena dua alasan:
Alasan pertama, asap rokok yang dihasilkan oleh pembakaran rokok bukan hanya yang masuk ke dalam tubuh perokok, tapi juga yang keluar dari ujung rokok itu sendiri, dan bagian ini tidak tersaring sama sekali. Itu artinya, potensi radikal bebas yang dihasilkan masih tetap ada.
Alasan kedua, alat penyaring tersebut tidak dapat menghilangkan gas karbondioksida sama sekali, artinya potensi terjadinya penambahan gas karbondioksida pada atmosfer tetap ada. Bahkan potensi jumlah gas karbondioksida yang dilepaskan ke lingkungan bisa bertambah lebih banyak, sebab orang menjadi tidak takut lagi untuk merokok karena sekarang rokok sudah “tidak berbahaya lagi”.
Alasan ketiga, filter rokok yang beredar di Indonesia ternyata mengandung darah babi, seperti yang diberitakan beberapa waktu yang lalu di media-media.
Jadi, penemuan ini merupakan suatu bencana yang seharusnya tidak dilanjutkan, karena akan mengajari orang supaya merokok.
Stop Rokok, apapun alasannya !

@IF'38

Jumat, 22 Agustus 2014

Cara Membuat Isomer


Beberapa dari kita banyak yang mengalami kesulitan dalam menentukan jumlah isomer dari senyawa-senyawa hidrokarbon.
Berikut ini akan diajarkan trik-trik bagaimana cara membuat isomer baik alkana, alkena, maupun alkuna.


1. Cara membuat isomer dari Alkana

Alkana hanya memiliki satu jenis isomer, yaitu isomer rangka. Lalu, bagaimana cara membuat isomer-isomer dari alkana? Berikut ini akan diuraikan cara-caranya. Kita ambil contoh cara membuat isomer-isomer pada heksana (C6H14). Disini yang dituliskan hanya atom C-nya saja, atom H bisa diikutkan kemudian.

Langkah I : buat dahulu bentuk rantai lurus (normal)
n-heksana
Langkah II : pindahkan 1 buah gugus metil (CH3) untuk menjadi rantai cabang
2-metilpentana
Langkah II : geser cabang ke tengah
3-metilpentana
Langkah IV : jika masih memungkinkan geser terus ke tengah. Jika tidak, ambil satu buah gugus metil (CH3) lagi, sehingga cabangnya ada dua buah.
2,2-dimetilbutana
Langkah V : geser salah satu gugus
2,3-dimetilbutana
Langkah VI : jika masih memungkinkan, geser terus salah satu atau kedua gugus. Terus lakukan langkah-langkah diatas sampai didapatkan semua isomernya. (untuk kasus ini, tidak ada lagi yang bisa dilakukan).
Setelah semua kemungkinan dituliskan, hitung semua isomer yang mungkin.
Jadi, heksana memiliki 5 buah isomer

Catatan : Untuk alkana suku rendah (jumlah atom C mulai dari 4 sampai 7), jumlah isomer dapat dihitung dengan rumus :

1 + (2)n-4

dimana n = jumlah atom karbon. 
 

2. Cara membuat isomer dari Alkena
Alkena memiliki semua jenis isomeri, yaitu isomeri rangka, isomeri posisi, dan isomeri geometri.
Langkah I : Buat dahulu bentuk rantai lurus dengan ikatan rangkap pada atom C nomor 1
1-pentena
Langkah II : Geser ikatan rangkap ke tengah
2-pentena
Langkah III : Jika memungkinkan, geser terus ikatan rangkap, namun jika tidak, buat cabang
2-metil-1-butena
Langkah IV : Geser cabang ke tengah
3-metil-1-butena
Langkah V : Geser ikatan rangkap
3-metil-2-butena
Langkah VI : cari kemungkinan senyawa yang dapat dibuat isomer cis atau trans-nya. Dalam hal ini, hanya ada satu senyawa yang memungkinkan untuk dibuat isomer geometrinya, yaitu 2-pentena
cis-2-pentena 
trans-2-pentena
Langkah VII : jika masih memungkinkan, geser ikatan rangkap dan cabang, dan terus lakukan langkah-langkah diatas sampai didapatkan semua kemungkinan isomernya. (untuk kasus ini, tidak ada lagi yang bisa dilakukan).
Setelah semua kemungkinan dituliskan, hitung semua isomer yang mungkin.
Jadi, jika tidak melibatkan isomer geometri (yang biasanya muncul di soal-soal), maka jumlah isomer pentena ada 5 buah, namun jika melibatkan isomer geometri, maka jumlah isomer pentena ada 6 buah.

3. Cara membuat isomer dari Alkuna
Alkuna hanya memiliki dua jenis isomeri, yaitu isomeri rangka dan isomeri posisi.
Membuat isomer pada alkuna hampir sama dengan membuat isomer pada alkena, hanya saja alkuna tidak memiliki isomer geometri.

@IF'38

Senin, 11 Agustus 2014

Atom karbon sebagai inti senyawa organik

 
IDENTIFIKASI SENYAWA KARBON
Sebagaimana sudah diuraikan, senyawa karbon organik merupakan senyawa karbon yang bersifat flammable (mudah terbakar). Sifat ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis persentase komponen unsur penyusun dalam senyawa organik. 
Ketika suatu senyawa organik dibakar dengan oksigen berlebih, maka produk reaksi utamanya adalah karbondioksida dan uap air. Untuk menganalisis keberadaan karbondioksida, dapat digunakan air kapur (larutan Ca(OH)2). Gas karbondioksida akan mengeruhkan air kapur karena terjadi reaksi antara Ca(OH)2 dengan CO2 menghasilkan endapan CaCO3 yang berwarna keruh.
Ca(OH)2 + CO2 → CaCO3 + H2O
Sementara itu, untuk menganalisis keberadaan uap air, dapat digunakan senyawa garam anhidrat seperti magnesium perklorat anhidrat, tembaga sulfat anhidrat, atau kobal klorida anhidrat. Yang paling mudah adalah dengan menggunakan senyawa kobal klorida anhidrat karena senyawa ini dapat mendeteksi keberadaan uap air bahkan dalam jumlah kecil sekalipun. 
Biasanya, supaya lebih praktis, senyawa ini ditempelkan pada semacam kertas sehingga dikenal dengan nama kertas kobal. Kertas kobal klorida berwarna biru tua, ketika mengenai uap air, maka kertas ini berubah menjadi merah muda karena terbentuk senyawa kobal klorida heksahidrat.
      CoCl2 + 6H2O → CoCl2.6H2O
KEKHASAN ATOM KARBON
Dalam pembahasan selanjutnya, jika dikatakan senyawa karbon, maksudnya adalah senyawa karbon organik. Dan sebagaiman sudah diuraikan, 80% senyawa yang telah diketahui merupakan senyawa organik, dan senyawa organik tersusun terutama oleh atom karbon. Lalu, apa saja yang menjadi keistimewaan atom karbon sehingga unsur ini dapat membentuk variasi senyawa yang sangat banyak dengan unsur-unsur lain, dan kita harus mempelajarinya secara khusus?.
Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh atom karbon adalah :
1. Memiliki 4 buah elektron valensi (4 tangan)
2. Jari-jari atomnya paling kecil dibandingkan dengan unsur-unsur yang segolongan (Si, Ge, Sn, Pb), sehinga ikatan kovalen yang terbentuk sangatlah kuat
3. Memiliki kemampuan untuk berikatan dengan sesamanya. Nama ilmiahnya adalah Katenasi 
4. Dapat membentuk rantai
KEDUDUKAN ATOM KARBON DALAM SENYAWA ORGANIK
Karena dapat membentuk rantai yang panjang (dan sering bercabang), tentunya ada atom karbon yang terletak di pinggir, dan ada pula yang terletak di tengah. Maka, berdasarkan letaknya dalam rantai, atom karbon dapat dibedakan menjadi atom karbon primer, sekunder, tersier, dan kwartener.
Atom C primer adalah atom C yang hanya mengikat sebuah atom C tetangga. Atom C sekunder mengikat 2 buah atom C tetangga. Atom C tersier mengikat 3 buah atom C tetangga. Sedangkan atom C kwartener mengikat 4 buah atom C tetangga.


Dari gambar di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa untuk senyawa hidrokarbon (senyawa yang terdiri atas atom hidrogen dan atom karbon), atom C primer terdapat pada gugus CH3, atom C sekunder terdapat pada gugus CH2, atom C tersier terdapat pada gugus CH, dan atom C kwartener tidak mengikat satu pun atom hidrogen.


@IF'38

Minggu, 03 Agustus 2014

Pengantar Kimia Organik

 
Senyawa organik merupakan senyawa yang sudah dikenal lama dalam kehidupan manusia. Sejak dahulu, mesir kuno telah menggunakan pewarna indigo dan alizarin untuk mewarnai kain. Mereka juga telah mampu mengawetkan mayat (mumi) menggunakan formalin. Di tempat lain, orang-orang Phoenix menggunakan warna “ungu kerajaan” yang diperoleh dari molusca sebagai bahan pewarna kain. Ilmu kimia yang mempelajari senyawa-senyawa organik dinamakan kimia organik. Sebagai ilmu tersendiri, kimia organik baru berkembang sejak sekitar 200 tahun yang lalu.
Sampai awal abad XIX, kimia organik (sesuai dengan namanya), didefinisikan oleh para ahli sebagai ilmu kimia yang mempelajari senyawa yang datang dari benda hidup. Pada waktu itu, bahkan para ahli berkeyakinan bahwa tidak mungkin mensintesis (membuat) suatu senyawa organik tanpa melalui proses metabolisme makhluk hidup (kekuatan vital atau vital force). Senyawa-senyawa kimia seperti urea dan gula hanya bisa dibuat oleh makhluk hidup, dan belum ada sampai saat itu metode yang dapat dilakukan untuk membuat urea atau gula dari benda mati atau anorganik. Jadi, kimia organik adalah lawan dari kimia anorganik.
Untuk itu, pada tahun 1770, seorang ahli kimia Swedia yang bernama Torbern Bergman, mendefinisikan kimia organik sebagai ilmu yang mempelajari senyawa-senyawa yang diambil dari organisme hidup, dan senyawa-senyawa tersebut membutuhkan kekuatan vital (organisme) untuk membuatnya.
Selanjutnya, pada tahun 1784 Lavoisier untuk pertama kalinya menemukan bahwa unsur penyusun utama senyawa organik adalah C, H, dan O. Dan pada tahun 1811-1831, Justus Liebig, J.J. Berzelius, dan J.B.A. Dumas mengembangkan metode kuantitatif untuk menentukan komposisi senyawa organik.
Keyakinan para ilmuwan bahwa senyawa organik harus berasal dari makhluk hidup, hanya bertahan selama 6 dasawarsa. Pada tahun 1828, salah seorang murid Berzelius yaitu Friederich Wohler, secara tidak sengaja mampu mensintesis urea dari senyawa anorganik. Pada waktu itu, dia sedang mereaksikan larutan perak sianat (AgOCN) dengan larutan amonium klorida (NH4Cl). Reaksi ini menghasilkan larutan amonium sianat (NH4OCN) dan endapan perak klorida (AgCl). Setelah dipisahkan, dia ingin mendapatkan kristal amonium sianat dengan cara memanaskan larutan amonium sianat. Ternyata, karena pemanasan terlalu lama, senyawa tersebut memang mengkristal, namum berubah menjadi urea [(NH2)2CO].
Kejadian ini menggemparkan dunia kimia pada waktu itu, urea yang merupakan senyawa organik, dapat dibuat dari amonium sianat yang merupakan senyawa anorganik. Semenjak itu, banyak sintesis senyawa organik yang dilakukan di laboratorium.
Karena kejadian itu pula (dan sintesis senyawa organik di laboratorium lainnya), definisi kimia organik pun berubah. Tahun 1861, Friederich Kekule mengusulkan bahwa kimia organik harus didefinisikan sebagai cabang ilmu kimia yang mempelajari senyawa-senyawa karbon. Akan tetapi, sebenarnya definisi ini pun tidaklah terlalu tepat, karena sebagiamana akan dipelajari, ada pula senyawa karbon yang bukan organik.
Meskipun begitu, definisi ini lebih tepat karena memang semua senyawa organik mengandung karbon, sementara senyawa karbon yang bukan organik jenisnya hanya sedikit. Berikut ini tabel yang akan memberikan gambaran beberapa perbedaan antara senyawa karbon organik dengan senyawa karbon anorganik.
Demikian sekilas pengantar kimia organik. Materi ini akan dibahas di kelas XI di kurikulum 2013.
Semoga bermanfaat buat sobat chem sekalian 

@IF'38