Senin, 04 Agustus 2014

Tekanan Uap Jenuh



Tekanan uap jenuh suatu zat adalah tekanan yang ditimbulkan oleh uap jenuh zat tersebut.

Bagaimana penjelasannya?

Ketika suatu cairan (misalkan air) dalam suatu wadah dibiarkan di udara terbuka, maka lama kelamaan air tersebut akan habis. Hal ini terjadi karena air tersebut menguap. Pada suhu normal (bukan pada titik didih air), penguapan hanya terjadi pada bagian permukaan cairan. Hal ini terjadi karena bagian permukaan adalah bagian yang paling dekat dengan udara luar sehingga partikel air di bagian permukaan memiliki kesempatan paling besar untuk meninggalkan fasa cair menuju fasa gas (menguap).

Semakin tinggi suhu, semakin cepat penguapan terjadi, sedangkan semakin rendah suhu, maka penguapan pun berlangsung semakin lambat. Jika wadah yang berisi air ini kita tutup rapat sehingga tidak ada uap air yang dapat lepas ke udara terbuka, maka uap tersebut akan terperangkap di ruang antara tutup wadah dengan permukaan air. Penguapan ini akan terus berlangsung sampai pada suatu ketika, ruang tersebut sudah “penuh sesak” oleh uap air. Keadaan ini menghambat penguapan air lebih lanjut.

Selanjutnya, karena partikel-partikel uap air terus bergerak, maka mereka akan menumbuk ke sana kemari, sehingga sebagian partikel uap air tersebut ada yang menumbuk cairan dan kembali menjadi air. Ketika ada sebagian uap air yang berubah menjadi air (mengembun), maka dia menyisakan ruang kosong yang kemudian akan diisi oleh partikel air lain yang berubah menjadi uap air (menguap). Begitu seterusnya, sehingga akan terbentuk kesetimbangan air–uap air, dan kondisi ini dinamakan kondisi kesetimbanganuap jenuh.

Nah, tekanan yang ditimbulkan oleh uap jenuh ini dinamakan tekanan uap jenuh. (perlu diketahui, tekanan gas ditimbulkan oleh tumbukan antara partikel gas dengan dinding wadahnya).

Gambar kiri : gelas yang tertutup rapat yang berisi air sebanyak setengahnya, sehingga menyisakan ruang diatasnya. Gambar Kanan : Bagan yang memperlihatkan kesetimbangan yang terjadi antara air dengan uap.

Semakin banyak uap yang dihasilkan oleh suatu zat, maka semakin banyak partikel gas yang dihasilkan, sehingga semakin besar pula tekanan uapnya. Beberapa zat memiliki tekanan uap yang lebih besar daripada yang lainnya. Zat-zat seperti etanol, bensin, dietil eter, dll, memiliki tekanan uap yang lebih besar daripada zat yang lainnya seperti air. Akan tetapi, tekanan uap tidak hanya berkaitan dengan zat cair, padatan pun memiliki tekanan uap, namun nilainya kecil sekali, bahkan bisa diabaikan.

Zat-zat yang mudah menguap atau memiliki tekanan uap yang besar disebut dengan zat volatile. Zat-zat tersebut memiliki tekanan uap yang besar karena memiliki gaya tarik antarpartikel yang rendah sehingga interaksi antar partikelnya lebih mudah putus. Kebalikan dari zat volatile adalah zat nonvolatile (tidak mudah menguap). Zat-zat seperti ini adalah zat-zat yang pada suhu kamar berwujud padat seperti, gula, garam, urea, glukosa, dll.

Tekanan uap dipengaruhi oleh suhu. Semakin besar suhu, maka energi kinetik zat semakin besar sehingga interaksi antarpartikelnya melemah yang akibatnya menjadi lebih mudah putus, dengan begitu akan lebih cepat menjadi uap (gas). Artinya, tekanan uapnya meningkat.

Nah, dari uraian diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tekanan uap suatu zat juga dapat didefinisikan sebagai besarnya tekanan atau kemampuan yang dimiliki partikel-partikel zat tersebut untuk melepaskan diri dari kelompoknya dan keluar bebas sebagai gas (menguap).

Demikian penjelasan ringkas tentang tekanan uap, insya Allah kita akan lanjutkan dengan konsep penurunan tekanan uap suatu cairan ketika ditambahkan ke dalamnya zat terlarut yang sukar menguap (nonvolatile).


@IF"38


7 komentar: