Jumat, 05 September 2014

Manfaat mempelajari ilmu kimia (2) : Rokok dan Pemanasan Global


Sebagaimana sudah diuraikan di bab sebelumnya, organisme hidup termasuk manusia, merupakan “mesin pengoksidasi karbon”. Hal ini karena makhluk hidup senantiasa membakar senyawa karbon (seperti glukosa) menghasilkan karbondioksida dan uap air. Ketika mereka mati di permukaan bumi, maka senyawa karbon yang terkandung akan terurai menghasilkan karbondioksida dan air. Akan tetapi, ketika mereka terkubur dalam tanah dan tidak kontak dengan oksigen, maka senyawa karbon yang dikandungnya tidak teroksidasi menjadi karbondioksida dan uap air, akan tetapi sebaliknya, dengan bantuan bakteri tertentu, malah mengalami reduksi menjadi senyawa karbon lain yang dikenal dengan nama minyak bumi.
Minyak bumi tersusun terutama oleh hidrokarbon. Unsur karbon yang terdapat dalam hidrokarbon ini berada dalam bilangan oksidasi terendahnya yaitu -4. Ketika hidrokarbon ini dibakar di udara, maka terjadi perubahan bilangan oksidasi yang sangat drastis, dari -4 pada senyawa hidrokarbon menjadi +4 pada senyawa CO2, yang tentunya disertai pelepasan energi yang sangat besar. Itulah sebabnya mengapa hidrokarbon banyak digunakan sebagai bahan bakar minyak (BBM).

Masalahnya adalah bahwa pembakaran BBM ini menghasilkan senyawa CO2 dan H2O ke udara. Kedua senyawa ini termasuk kelompok gas rumah kaca, yaitu gas yang dapat menaikkan suhu bumi karena mampu menyerap sinar infra merah yang dipantulkan oleh bumi.
Akhir-akhir ini, permasalahan gas rumah kaca ini telah menyibukkan para ilmuwan karena telah berada pada level yang mengkhawatirkan. Betapa tidak, banyaknya gas rumah kaca di atmosfer akan menyebab-kan bencana yang dinamakan pemanasan global. Pemanasan global adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu bumi di seluruh dunia secara merata. Akibat yang ditimbulkan oleh pemanasan global termasuk mencairnya es di kutub sehingga menyebabkan naiknya permukaan air laut yang pada gilirannya menenggelamkan kota-kota di pinggir pantai. Pemanasan global juga menyebabkan terjadinya perubahan iklim, dimana terjadi kekeringan pada musim penghujan, atau banjir pada musim kemarau. Beberapa bencana yang lain seperti tsunami dan tornado juga diakibatkan oleh pemanasan global.

Perlu diketahui, komponen utama penyusun udara adalah nitrogen (78,08 %), oksigen (20,95 %), dan argon (0,93 %). Ketiga gas ini bukanlah termasuk gas-gas rumah kaca, dan mereka menyusun 99,96 % atmosfer bumi. Sementara itu, salah satu gas rumah kaca yaitu CO2 hanya memiliki kadar sebesar 0,0093 %. Gas-gas rumah kaca yang lain seperti uap air dan metana, jumlahnya lebih sedikit daripada CO2. Itu artinya, pemanasan global dikendalikan oleh gas-gas yang jumlahnya tidak mencapai 0,1 %. Bagaimana hal ini bisa terjadi ?

Jawabannya ada pada sifat gas rumah kaca itu sendiri. Kita ambil contoh CO2. CO2 tidak memberikan pengaruh pada jumlah energi yang diterima oleh bumi dari matahari (energi input), karena CO2 bersifat transparan (tidak menyerap sinar yang dipancarkan oleh matahari). Sebaliknya, CO2 sangat efektif dalam menyerap radiasi infra merah yang dipantulkan kembali oleh bumi (energi output). Itu artinya, energi output (keluaran) dari bumi menuju luar angkasa berkurang sebanding dengan bertambahnya jumlah CO2 bahkan dalam jumlah sedikit pun. Akibatnya, sebagian energi output (dalam bentuk sinar infra merah) menjadi tertahan di bumi sehingga menyebabkan kenaikan suhu bumi.

Yang lebih parah lagi, CO2 memiliki masa tinggal yang sangat lama di udara (sampai 100 tahun).

Nah, sebagai pemuda yang berpendidikan, sudah seharusnya kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Untuk mencegah pemanasan global, kita dapat melakukan hal-hal yang sederhana, seperti menghemat pemakaian energi, baik itu energi listrik, maupun energi yang lainnya. Lebih memilih jalan kaki atau bersepeda menuju tempat yang cukup dekat dibandingkan dengan menggunakan motor atau mobil, servis kendaraan secara rutin supaya mesin kendaraan lebih hemat energi, dan tidak membakar sampah. Sampah-sampah organik seperti kertas dan sampah makanan sebaiknya dikubur sehingga dapat menjadi kompos.

Diantara cara sederhana untuk mencegah pemanasan global juga adalah dengan menanam pohon dan tidak merokok. Menanam pohon dapat mengurangi karbondioksida di udara, karena tanaman dapat mengubah karbondioksida menjadi oksigen ketika mereka melakukan fotosintesis.

Sementara itu, merokok dapat menimbulkan pemanasan global karena asap yang dihasilkan mengandung banyak senyawa kimia yang termasuk gas rumah kaca terutama karbondioksida. Sebagaimana kita ketahui, kenaikan sedikit saja kadar karbondioksida di udara, dapat meningkatkan resiko pemanasan global.

Apapun alasan dan dalihnya, merokok tidak memberikan keuntungan apapun. Meskipun baru-baru ini, telah ditemukan alat penyaring rokok yang dapat menangkal radikal bebas yang dihasilkan oleh pembakaran rokok ke dalam tubuh seseorang. Alat penyaring (filter) yang dinamai divine cigarette tersebut diklaim dapat mengurangi bahkan menghilangkan radikal bebas, sehingga tubuh tidak terkena dampak negatif radikal bebas yang dihasilkan oleh rokok.
Pada dasarnya, alat ini bukanlah penemuan yang istimewa, namun justru dapat menimbulkan bencana yang lebih hebat di kemudian hari. Betapa tidak, hal ini karena dua alasan:
Alasan pertama, asap rokok yang dihasilkan oleh pembakaran rokok bukan hanya yang masuk ke dalam tubuh perokok, tapi juga yang keluar dari ujung rokok itu sendiri, dan bagian ini tidak tersaring sama sekali. Itu artinya, potensi radikal bebas yang dihasilkan masih tetap ada.
Alasan kedua, alat penyaring tersebut tidak dapat menghilangkan gas karbondioksida sama sekali, artinya potensi terjadinya penambahan gas karbondioksida pada atmosfer tetap ada. Bahkan potensi jumlah gas karbondioksida yang dilepaskan ke lingkungan bisa bertambah lebih banyak, sebab orang menjadi tidak takut lagi untuk merokok karena sekarang rokok sudah “tidak berbahaya lagi”.
Alasan ketiga, filter rokok yang beredar di Indonesia ternyata mengandung darah babi, seperti yang diberitakan beberapa waktu yang lalu di media-media.
Jadi, penemuan ini merupakan suatu bencana yang seharusnya tidak dilanjutkan, karena akan mengajari orang supaya merokok.
Stop Rokok, apapun alasannya !

@IF'38

0 komentar:

Posting Komentar